Banyak sekali kekacauan-kekacauan yang
dikait-kaitkan masalah agama dan kepercayaan. Mulai dari perbedaan agama karena
pembawanya, atapun dari dalam agama itu sendir (sekte-sekte). Hal ini
mengakibatkan banyak sekali kekacauan dan bahkan menjadi sebuah permusuhan
mulai dari nenek moyangnya (keluarga besar). Yang mana agama dipahami menjadi
sempit, karena agama menjadi apa yang dikatakan kyaiku, ustadzku, keluargaku,
dan golonganku. Agama menjadi sempit sekali menjadi wilayah domestic.
Peperangan, penghianaan, dan perenggutan sesuatu
yang seharusnya menjadi hak untuk dinikmati diri seseorang menjadi hilang dan
tidak ada nilainya. Hal ini dikarenakan agama sudah menyempit dan menjadi
wilayah domestic dan agama islam tidak lagi menjadi agama yang rohmatan lil alamin.
Hal lain juga yang menjadikan agama menjadi sesempit
dapur rumah tangga, yang mana agama yang paling benar itu adalah yang saya
ketahui. Tambbah parah lagi kalau ditambah dengan agama yang dianutnya adalah
agama doktrin (agama yang dipahami kebenarannya tanpa tahu apa tujuan dan
maksutnya).
Seperti yang kita ketahui selama ini, pertama
kalinya agama ditanamkan dalam diri manusia adalah dengan cara mendoktrin (bagi
yang keislamannya karena dilahirkan dalam kampong islam/lingkungan islam). Tapi
doktrin pada saat itu diperlukan dan bahkan dianjurkan adanya, Karenna melihat
kondisi yang terjadi pada masyarakat tersebut. Tapi sangat berbahaya kalau
agama doktrinan tersebut berlangsung terlalu lama sepenuhnya dalam diri
individu tersebut, pasalnya agama akan dipahami dengan caranya sendiri dan
tidak melihat yang lainnya. Cara beragama yang seperti ini yang rawan sekali
mengikuti golongan kanan ataupun golongan kiri, karena dia tidak tahu apa
maskut yang hendak disampaikan dalam pijakannya tersebut (dasar hukum).
Apalagi berbicara masalah kebenaran yang dicari-cari
oleh seluruh manusia di bumi ini. Semuanya mengklaim kalau dirinya itu benar
dan paling benar disbanding yang lainnya. Akibatnya menjadikan dia sombong dan
lupa akan siapa dirinya; padahal dirinya hanya makluk. Pada hakikatnya
kebenaran itu yang mengetahui adalah Tuhan yang maha esa itu sendiri, manusia
hanya menganggap kebenaran melalui apa yang diyakini kebenarannya dan
dijalaninya, tapi belum tentu diyakini dan dialami oleh orang lain.
Ditambah lagi yang selalalu memakai kata-kata “kata
ustadzku begitu”. Tidak apa-apa sebenarnya memakai kata itu, tapi jangan
digunakan untuk berdakwah dulu, karena kalau
itu sampai digunakan secara terus menerus sampai beberapa
keturunan/beberapa masa, maka nilai yang terkandung dalam ajaran yang
disampaikan yang katanya dari “ustadzku” itu akan hilang. Karena tidak berusaha
digali apa maksut yang terkandung didalam wejangan ustadz itu. Coba dibayangkan
pasti akan hilang kan, dan selanjutnya wejangan ustadz tersebut ditafsiri
dengan penafsiran masing-masing individu. Kata ustadz itu bukanlan al-qur’an
atau al-hadits yang harus boleh ditafsiri sendiri-sendiri dengan metodenya
sendiri. Kata ustadz itu harus ditanyakan apa maksutnya secara gambling keoada
beliaunya. Sehingga jelas apa maksut yang ada di dalamnya.
Hal di atas bisa juga disamakan dengan taklit
(mengikut). Taklit tidak ada masalah, yang menjadi masalah adalah apabila
taklit itu terus dilakukan. Karena tujuan awal dari taklit itu pertamanya
adalah hanya agar menjalankan apa yang sudah menjadi kebiasaan beragama. Tapi
kebanyakan sudah puas dengan ketaklitan tersebut, sehingga menjadikannya malas
untuk belajar dan berusaha menangkan apa yang disampaikan Tuhan melalui
tanda-tanda-NYA. Sehingga disini kegiatan belajar menjadi hilang, dan
lambat-laut pesan inti dari agama akan hilang.
Nabi pernah bersabda yang artinya kurang lebih
“tuntutlah ilmu dari buaian (gendonegan) sampai liang lahat (kematian)”. Jadi,
menuntut ilmu wajib dilakukan sejak di gendongan sampai kematian. Tapi
pemahaman hadis ini hanya dipahami untuk ceramah kesana-kesini, tapi tidak
benar-benar di implementasikan dalam hidup. Dalam hadis ini sangat besar
manfaatnya appabila benar-benar di implementasikan dalam hidup ini. Hadis ini
mengajarkan juga pada manusia untuk selalu belajar dan belajar, dan menjadikan
kita tidak menjadi sombong dengan pengetahuan yang kita miliki dan apapun yang
kita miliki.
Belajar atau menuntut ilmu itu banyak sekali manfaat
yang akan didapatnya, karena mulai kita bangun sampai terbangun lagi itu
memakai ilmu. Dan ilmu itu jangan dipahami didapat dari bangku sekolah, diskusi
atau pitutur-pititur yang diberikan
oleh kyai, ilmu itu mencangkup segala tanda-tanda kebesaran Tuhan yang maha
esa.
-BERSAMBUNG-
Tidak ada komentar:
Posting Komentar