Senin, 26 Agustus 2013

Jangan memahami agama di dadaku, tapi disekujur jubuhku dan disekitarku



Banyak sekali kekacauan-kekacauan yang dikait-kaitkan masalah agama dan kepercayaan. Mulai dari perbedaan agama karena pembawanya, atapun dari dalam agama itu sendir (sekte-sekte). Hal ini mengakibatkan banyak sekali kekacauan dan bahkan menjadi sebuah permusuhan mulai dari nenek moyangnya (keluarga besar). Yang mana agama dipahami menjadi sempit, karena agama menjadi apa yang dikatakan kyaiku, ustadzku, keluargaku, dan golonganku. Agama menjadi sempit sekali menjadi wilayah domestic.
Peperangan, penghianaan, dan perenggutan sesuatu yang seharusnya menjadi hak untuk dinikmati diri seseorang menjadi hilang dan tidak ada nilainya. Hal ini dikarenakan agama sudah menyempit dan menjadi wilayah domestic dan agama islam tidak lagi menjadi agama yang rohmatan lil alamin.
Hal lain juga yang menjadikan agama menjadi sesempit dapur rumah tangga, yang mana agama yang paling benar itu adalah yang saya ketahui. Tambbah parah lagi kalau ditambah dengan agama yang dianutnya adalah agama doktrin (agama yang dipahami kebenarannya tanpa tahu apa tujuan dan maksutnya).
Seperti yang kita ketahui selama ini, pertama kalinya agama ditanamkan dalam diri manusia adalah dengan cara mendoktrin (bagi yang keislamannya karena dilahirkan dalam kampong islam/lingkungan islam). Tapi doktrin pada saat itu diperlukan dan bahkan dianjurkan adanya, Karenna melihat kondisi yang terjadi pada masyarakat tersebut. Tapi sangat berbahaya kalau agama doktrinan tersebut berlangsung terlalu lama sepenuhnya dalam diri individu tersebut, pasalnya agama akan dipahami dengan caranya sendiri dan tidak melihat yang lainnya. Cara beragama yang seperti ini yang rawan sekali mengikuti golongan kanan ataupun golongan kiri, karena dia tidak tahu apa maskut yang hendak disampaikan dalam pijakannya tersebut (dasar hukum).
Apalagi berbicara masalah kebenaran yang dicari-cari oleh seluruh manusia di bumi ini. Semuanya mengklaim kalau dirinya itu benar dan paling benar disbanding yang lainnya. Akibatnya menjadikan dia sombong dan lupa akan siapa dirinya; padahal dirinya hanya makluk. Pada hakikatnya kebenaran itu yang mengetahui adalah Tuhan yang maha esa itu sendiri, manusia hanya menganggap kebenaran melalui apa yang diyakini kebenarannya dan dijalaninya, tapi belum tentu diyakini dan dialami oleh orang lain.
Ditambah lagi yang selalalu memakai kata-kata “kata ustadzku begitu”. Tidak apa-apa sebenarnya memakai kata itu, tapi jangan digunakan untuk berdakwah dulu, karena kalau  itu sampai digunakan secara terus menerus sampai beberapa keturunan/beberapa masa, maka nilai yang terkandung dalam ajaran yang disampaikan yang katanya dari “ustadzku” itu akan hilang. Karena tidak berusaha digali apa maksut yang terkandung didalam wejangan ustadz itu. Coba dibayangkan pasti akan hilang kan, dan selanjutnya wejangan ustadz tersebut ditafsiri dengan penafsiran masing-masing individu. Kata ustadz itu bukanlan al-qur’an atau al-hadits yang harus boleh ditafsiri sendiri-sendiri dengan metodenya sendiri. Kata ustadz itu harus ditanyakan apa maksutnya secara gambling keoada beliaunya. Sehingga jelas apa maksut yang ada di dalamnya.
Hal di atas bisa juga disamakan dengan taklit (mengikut). Taklit tidak ada masalah, yang menjadi masalah adalah apabila taklit itu terus dilakukan. Karena tujuan awal dari taklit itu pertamanya adalah hanya agar menjalankan apa yang sudah menjadi kebiasaan beragama. Tapi kebanyakan sudah puas dengan ketaklitan tersebut, sehingga menjadikannya malas untuk belajar dan berusaha menangkan apa yang disampaikan Tuhan melalui tanda-tanda-NYA. Sehingga disini kegiatan belajar menjadi hilang, dan lambat-laut pesan inti dari agama akan hilang.
Nabi pernah bersabda yang artinya kurang lebih “tuntutlah ilmu dari buaian (gendonegan) sampai liang lahat (kematian)”. Jadi, menuntut ilmu wajib dilakukan sejak di gendongan sampai kematian. Tapi pemahaman hadis ini hanya dipahami untuk ceramah kesana-kesini, tapi tidak benar-benar di implementasikan dalam hidup. Dalam hadis ini sangat besar manfaatnya appabila benar-benar di implementasikan dalam hidup ini. Hadis ini mengajarkan juga pada manusia untuk selalu belajar dan belajar, dan menjadikan kita tidak menjadi sombong dengan pengetahuan yang kita miliki dan apapun yang kita miliki.
Belajar atau menuntut ilmu itu banyak sekali manfaat yang akan didapatnya, karena mulai kita bangun sampai terbangun lagi itu memakai ilmu. Dan ilmu itu jangan dipahami didapat dari bangku sekolah, diskusi atau pitutur-pititur yang diberikan oleh kyai, ilmu itu mencangkup segala tanda-tanda kebesaran Tuhan yang maha esa.
-BERSAMBUNG-

Tidak ada komentar:

Posting Komentar